Setiap manusia yang terlahir di dunia ini pastinya membawa kelebihan serta kekurangan. Kadang mereka datang dengan kelebihan yang bisa dilihat dengan kasat mata, bahkan sampai yang tidak bisa dijelaskan secara nalar.

Mereka juga yang datang dengan kekurangannya merupakan suatu dzat yang digariskan oleh Tuhan YME sebagai wujud mempersatukan dan melengkapi segala kelebihan yang ada didunia ini.

Begitu lah prinsip moto hidup yang dipegang oleh Mokhamad Nur Sholikin atau yang sering disapa dengan sebutan Kang Nur dalam bersosialisasi di masyarakat. Merupakan sebuah prinsip yang tetap mendorong diri dalam berperilaku rendah hati tanpa harus merendahkan kekurangan orang lain dan mengagungkan kelebihan orang lain.

Kang Nur seorang pemuda yang terlahir dikota Pati, kota yang dikenal dengan Kota 1000 Paranormal pada tanggal 04 Agustus 1996 ini, juga merupakan salah satu orang yang mendapatkan keistimewaan dari Tuhan YME dari sisi spiritual.

Bakat spiritual Kang Nur mulai disadari oleh dirinya sendiri sejak masih duduk dibangku kelas 5 Sekolah Dasar. Dan lambat laun seiring berjalannya waktu bakat tersebut mulai benar-benar beliau rasakan kekuatannya ketika seringnya beliau melihat sesuatu hal yang akan terjadi pada ke-esokan hari nanti.

Sering Melihat Kejadian Masa Depan

Awal mula beliau mulai merasakan hal aneh pada dirinya adalah ketika beliau sering bermimpi sesuatu hal yang mana mimpi itu seringkali terjadi pada waktu yang tidak terduga.

Selain dari perwujudan mimpi, hal-hal yang akan beliau temui tersebut juga kadang muncul terlebih dahulu dalam benak batin ketika beliau melakukan aktivitas diluar ruangan. Dan sejak saat itulah beliau benar-benar memantapkan terlebih dahulu apa yang muncul dibayangan beliau sebelum beliau mengatakan “besok akan terjadi ini” untuk tidak mendahului takdir yang digariskan oleh Tuhan YME.

Tidak Mau disebut Indigo

Banyak orang yang kenal dengan Kang Nur sebagai pemuda Indigo, namun beliau tidak mau disebut sebagai seorang Indigo.

Karena menurut beliau, kata Indigo merupakan sebuah kata yang melambangkan seseorang yang memiliki perbedaan spiritual dari orang pada umumnya, yang mana kemudian orang tersebut menjadi seseorang yang harus diperlakukan (diagungkan) dengan beda. Mulai dari pergaulan yang berbeda sampai cara memperlakukan orang lain yang berbeda pula.

Alasan itulah yang membuat Kang Nur tidak mau disebut sebagai seorang Indigo.

Beliau mengatakan:

“Saya adalah manusia biasa yang sama dengan kalian. Saya terlahir dari rahim seorang ibu dalam keadaan bersih dan suci seperti kalian. Serta saya juga seorang bocah yang memiliki kekurangan dan kelebihan sama seperti kalian juga. Jikalau pun saya dianugerahkan dengan kelebihan yang berbeda dari orang pada umumnya seperti ini, saya tidak ingin kalian mengangungkan dan melebih-lebihkan apa yang ada pada diri saya ini. Karena saya sadar, kelebihan yang dianugerahkan Tuhan kepada saya merupakan sedikit hal baik yang ada pada diri saya. Dan saya masih belajar akan hal itu”.

Belajar Kehidupan dari Sang Kekek

Sejak duduk dibangku sekolah dasar Kang Nur setiap malam bersantai dan tidur bersama dengan kakeknya di pelataran (teras) depan rumah hanya beralaskan tikar. Beliau ingat betul apa yang dikatakan sang kakek setiap kali melakukan hal tersebut.

“Dadio bocah sing pinter. Bocah sing biso ngademno atine wong tuo lan biso manfaati marang wong akeh. Mergo kue mbesok bakal kumpul ambi wong-wong sing butuhke kue. Ojo gumun karo opo sing mbuk rasakke, mergo kui wes di takdirke Gusti Allah kanggo kue. Manfaatke kanti bener lan gunak ake kanti bener kanggo wong sing butuhke”.

Artinya: “Jadilah anak yang pintar. Anak yang bisa mendinginkan (menyenangkan) hati orang tua dan bisa bermanfaat untuk orang banyak. Karena kamu nanti akan berkumpul dengan orang-orang yang membutuhkan kamu. Jangan kaget dengan apa yang kamu rasakan, karena itu sudah ditakdirkan Gusti Allah SWT untuk kamu. Manfaatkan lah dengan benar dan gunakan lah dengan benar untuk orang yang membutuhkan.”

Memang kakek Kang Nur dikenal sebagai orang yang sederhana namun dapat memberikan dampak yang cukup besar dalam masyarakat. Oleh karena itulah, moto hidup Rendah Hati menjadi pegangan teguh Kang Nur dibalik kelebihan yang beliau miliki.

Oleh karena itu, menurut wejangan dari sang Kakek inilah Kang Nur membuka diri untuk bisa membantu siapapun yang datang dan hadir kepada dirinya. Baik untuk membantu secara psikologis maupun spiritual.

Karena kelebihan yang saya miliki tidak akan berarti apa-apa jika tidak bisa saya gunakan untuk kemaslahatan umat. “Ujar Kang Nur”.

Prinsip Layanan Kang Nur

“Segala penyakit dan masalah pasti ada obatnya. Dan segala penyembuhan datangnya hanya dari Allah SWT. Saya hanya sebagai perantara, dan tugas saya adalah membantu mengarahkan Anda untuk menuju kepada kesembuhan tersebut”